Android Review

Android adalah manusia cyborg yang diciptakan oleh ilmuan jahat Dr.Gero dalam serial kartun dragon ball, diceritakan bahwa android memiliki energi tidak terbatas, bisa menghisap energi orang lain (18+ hehe) dan hidup kekal serta tidak memiliki aura seperti manusia, hewan dan orang saiyan (kampungnya si goku :D).

Pada awalnya semua android dibuat untuk membunuh Goku, namun sebagian besar android berpaling pada sisi baik seperti Android 18 yang menikah sama Krillin atau terbunuh seperti Android 19 yang meninggal oleh jurus Big Bang Attacknya Vegeta (obat susah boker :p).

#doc ingatan ane.. 😀

Tapi yang ane mau bahas adalah  Android operating system terbaru berbasis Linux.

Perkembangan teknologi memang ‘berlari’ sangat cepat. Jika beberapa tahun lalu MDers hanya mengenal Java atau Symbian untuk aplikasi handphone, belakangan muncul sistem operasi (OS) pada handphone yang memungkinkan handphone ‘diperlakukan’ layaknya komputer.
Mula-mula Microsoft ‘menginvasi’ pasar handphone dengan OS Windows Mobile yang ditanamkan pada beberapa merk smartphone dan PDA. Hal ini diikuti oleh Research in Motion (RIM) yang mengeluarkan BlackBerry OS untuk digunakan BlackBerry, sampai Apple, Inc. yang meluncurkan iOS untuk iPhone. Sedang Android sendiri merupakan OS terbaru yang diterapkan untuk handphone berbasis Linux yang siap “menggusur mereka”.  😀

Sejarah Android OS

Dikarenakan berbasis Linux, Android OS menyediakan platform terbuka bagi para pengembang, agar dapat menciptakan dan mengkustomisasi aplikasi mereka sendiri. Pada awalnya Android Inc dibeli oleh Google Inc, sebuah perusahaan pemilik search engine terbesar di dunia, pendatang baru yang membuat peranti lunak untuk ponsel. Kemudian untuk mengembangkan Android, dibentuklah Konsorsium bernama Open Handset Alliance.

2906_android_os_2.jpg
Konsorsium yang bernama Open Handset Alliance ini terdiri dari 65 perusahaan hardware, software, dan telekomunikasi. Ada banyak nama besar yang MDers kenali dalam konsorsium, seperti HTC, Intel, Motorola, Qualcomm, Synaptics, T-Mobile, Nvidia, Garmin, AsusTek, Vodafone, dan (tentu saja) Google sendiri. Sedang untuk perusahaan distributor, terdapat dua jenis sistem operasi Android ini, yaitu yang mendapat dukungan penuh dari Google atau Google Mail Services (GMS), dan yang benar–benar bebas distribusinya – tanpa dukungan langsung Google atau Open Handset Distribution (OHD).

Di dunia pun telah banyak bermunculan handset-handset yang berbasis Android OS, seperti HTC G2 Touch, HTC Magic, Motorola X-Droid, Samsung Galaxy, Motorola Charm serta Google Nexus One. Meski tiap merk memiliki fitur berbeda, namun penggunaan Android OS memungkinkan pengguna tidak mengalami kesulitan jika berganti handset, berkat tampilan Android OS yang sederhana dan telah terstandarisasi.

2906_android_os_3.jpg

Oracle vs Google

Pertengahan Agustus lalu, tiba-tiba terjadi keributan di dunia Open Source. Dan lagi-lagi, ini soal lisensi. Masalah ini terbilang cukup besar karena digelontorkan oleh pemain besar, Oracle. Ya, Oracle menuntut Google atas Android.

Gambaran globalnya adalah Oracle menuntut Google karena dituduh telah melanggar hak atas kekayaan intelektual milik Java. Java adalah platform dengan hak paten yang sebelumnya dipegang oleh Sun Microsystems. Karena Sun Microsystems telah diakuisisi oleh Oracle pada Januari lalu, maka sekarang Java menjadi hak milik dan tanggung jawab Oracle.

Nah, dalam tuntutan Oracle yang disampaikan juru bicaranya Karen Tillman, Oracle menuding bahwa dalam pengembangan Android, Google telah secara langsung dan berulang kali melakukan pelanggaran hak atas kekayaan intelektual. Pelanggaran yang dimaksud adalah Google disebut-sebut telah ‘mencuri’ ide dan kode dari Java untuk digunakan dalam Android yang sekarang sedang menjadi tren di pasar telepon pintar.

Ada enam paten yang digunakan oleh Oracle untuk menuntut Google, yaitu (1) proteksi domain dan akses control, (2) metode dan alat untuk proses dan packaging, (3) model proses dalam runtime, (4) referensi data dan kode, (5) fungsi dan cara pemanfaatan mesin, dan terakhir adalah (6) metode inisialisasi.

Pertanyaan yang muncul adalah ada apa sih sebenarnya? Mengapa Oracle ‘tiba-tiba’ menuntut Google ke pengadilan?

Jika ditilik, memang tidak ada yang baru dari kasus ini. James Gosling, bapak pembuat Java ini mengatakan ‘tidak ada yang mengejutkan’ ketika dimintai tanggapan tentang kasus ini.

Awalnya

Ini semua berawal saat Sun menjadikan Java sebagai open source pada tahun 2006 lalu untuk mengembangkan sayap dan membesarkan Java. Sejak saat itu, Java dikembangkan oleh para developer dan teknologi Java digunakan di berbagai perusahaan hingga pusat-pusat data. Salah satu perusahaan besar yang turut mengembangkan Java adalah Google. Dalam kolaborasinya dengan perusahaan lain yang juga menggunakan dan mengembangkan Java, Google kemudian menjadi bagian dari Java Community Process (JCP). JCP adalah sebuah badan yang bertugas membuat standar-standar untuk Java.

Setelah beberapa tahun berjalan, muncullah Java Micro Edition atau lebih dikenal dengan Java ME. Sama seperti sebelumnya, Sun juga membebaskan Java ME untuk para pengembang. Namun karena pasar yang bagus, Sun membujuk perusahaan besar yang ingin mengembangkan Java ME untuk membeli lisensi dan masing-masing perusahaan bebas untuk membuat produk apapun dari Java ME. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain adalah Nokia, Research In Motion (RIM), Motorola, LG, Samsung, Vodafone dan juga T-Mobile.

Melihat pasar ponsel pintar ke depan cukup bagus, Google tidak mau kalah sehingga pada tahun 2007 Google membeli Android dan mendirikan Open Handset Alliance bersama perusahaan besar lain seperti NVidia, Sony Ericsson, Samsung dan lain sebagainya untuk menaungi Android. Jalan yang ditempuh Google ini terbilang halus karena meskipun memanfaatkan teknologi Java, Google tidak berkewajiban untuk membayar lisensi atau berurusan dengan itu.

Mulai dari sinilah permasalahan timbul dan sejak saat itu Sun-Google berusaha membuat kesepakatan bersama namun tak juga mendapatkan jalan keluar walau berlangsung selama lebih dari 3 tahun.

Masalah Sebenarnya

Sebenarnya masalahnya bukanlah pada Android, melainkan pada Dalvik Virtual Machine (Dalvik). Dalvik adalah sebuah mesin virtual independen, baru dan dibuat khusus untuk Android. Dalvik ini adalah produk hasil ‘turunan’ dari Apache Harmony yang notabene berasal dari Java. Nah, meskipun Dalvik adalah mesin virtual yang sama sekali baru sekaligus berbeda dengan Java Virtual Machine, namun hampir sebagian besar (kalau tidak bisa dikatakan semuanya) library dalam Dalvik diambil dari Java.

Ini adalah jalan berbeda yang menguntungkan bagi Google, ditambah kelak Android menjadi sistem operasi telepon pintar yang mendunia dan hampir mengalahkan iOS. Hal ini pula yang membuat Sun sakit hati karena Android membuat produk hasil Java ME tidak laku. Keuntungan dari penjualan lisensi Java ME pun merosot.

Sayangnya, membawa perkara ke pengadilan untuk menang bukan sifat Sun. Sun adalah perusahaan yang memfokuskan diri pada pengembangan dan tidak (terlalu) berorientasi pada bisnis. Nah, ketika akhirnya Sun diakuisisi oleh Oracle, masalah inipun mendapatkan dukungan dan angin segar. Karena Oracle adalah perusahaan yang mementingkan bisnis maka Oracle mengangkat kembali isu ini dan dibawalah ke pengadilan.

Melihat dari sejarah, maka ada dua kemungkinan motif tuntutan Oracle atas Google. Pertama adalah menegakkan lisensi Java dan kedua adalah kekuasaan dan uang. Namun jika melihat dari sejarah dan perjalanan kasus ini, motif terakhir nampak lebih kuat ditambah latar belakang Oracle. Dengan kekuasaan Google atas Open Handset Alliance dan pesatnya penjualan atas Android, maka wajar jika akhirnya Oracle merasa iri dan menginginkan keduanya.

Selain itu, keluarnya James Gosling dan Jonathan Schwartz juga bisa jadi sebuah pertanda. Kedua sesepuh Sun ini memutuskan keluar dari Oracle sesaat setelah Sun dibeli. Dalam sebuah kesempatan, masing-masing juga mengakui saat proses negosiasi akusisi Oracle membicarakan tentang kasus ini.

Nah, andai kata Oracle berhasil memenangkan kasus ini maka mereka akan mendapatkan dua hal sekaligus yaitu kekuasaan dan uang. Siapa sih yang tidak menginginkan kedua hal tersebut? hehe

Menapaki Persaingan OS

Kini Android OS sudah mulai menyaingi popularitas BlackBerry OS dan iOS. Hal ini karena Android OS menawarkan banyak aplikasi gratis, dan aplikasi berbayar yang tidak terlampau mahal. Lihat saja bandrol BlackBerry OS yang tercatat paling tinggi di antara aplikasi lainnya.
Selain itu, Android OS siap berkolaborasi pemakaian dengan 57 persen aplikasi gratis yang diperuntukkan bagi Android. Berbeda jauh dengan BlackBerry OS yang hanya menyediakan aplikasi gratis sekitar 24 persen, dan iPhone yang hanya 25% dari total aplikasi.

Sementara untuk rata-rata harga aplikasi berbayarnya, Android OS hanya membebankan USD 3,27 per aplikasi. Lebih murah dibandingkan aplikasi berbayar iOS yang ditawarkan USD 3,62, dan sangat jauh jika dibandingkan BlackBerry OS yang rata-rata dibandrol USD 8,26.

2906_android_os_4.jpg
Saat ini, Android OS disebut-sebut sebagai sistem operasi handphone yang akan mengubah cara orang-orang dalam menggunakan handphone. Jika saat ini setiap merk handphone dioperasikan dengan caranya sendiri, misi Android adalah menyederhanakannya. Hal ini termasuk membuat tampilan lebih intuitif, dan tersedia secara luas sebagai standar.
Nantinya, kombinasi kesederhanaan software dan trend penggunaan handphone di negara berkembang yang mengutamakan fungsi, akan menjadikan Android OS sebagai platform global yang menarik untuk beberapa tahun ke depan. Meningkatnya kekuatan OS Android ini terbaca dari prediksi pasar smartphone 2009-2015 yang dikeluarkan perusahaan konsultan dan survey, Ovum.

Alasan mengapa Android akan semakin berjaya adalah karena semakin banyak pabrikan smartphone yang mencoba menekan biaya produksi mereka. Android menjadi salah satu alternatif untuk mewujudkan hal tersebut. Alhasil, semakin banyak produsen ponsel yang melirik Android. Saat ini yang mendominasi pasar adalah OS Symbian dengan pencapaian pangsa pasar sebesar 48 persen. Ini berarti terjadi penurunan dari 58 persen di 2008.

Walaupun Ovum memprediksi pengapalan Symbian akan mencapai 168 juta unit di tahun 2015, jumlah pangsa pasarnya akan terus terkikis sampai ke kisaran 30 persen. Penyebabnya adalah karena adanya pertumbuhan adopsi OS Android. Ovum memprediksikan pengapalan Android akan mencapai 110,8 juta di tahun 2015 dan diperkirakan OS ini akan melampaui pengapalan Windows Mobile di 2014.

Tertarik menciptakan aplikasi sendiri tanpa terikat License ?? hehe

Membuat Aplikasi Android

Untuk memulai membuat aplikasi untuk ponsel android kita :

sebelumnya kita harus menginstall dulu “alat-alat” yang kita butuhkan:

1. Download dan install android SDK

Windows android-sdk_r07-windows.zip

Mac OS X (intel) android-sdk_r05-mac_86.zip

Linux (i386) android-sdk_r05-linux_86.tgz

Ket: Jangan kaget jika installernya kurang dari 50 MB. Waktu kita instalasi butuh waktu yang sangat lama, karna harus mendownload sekitar 1,2 GB (full)

2. Download and install Eclipse

eclipse-SDK-3.5.2-win32.zip

Ket: Eclipse ialah software dimana kita meng-coding

3. Download dan install ADT for Eclipse

ADT 0.9.6

Ket:  ADT merupakan plugin untuk Eclipse agar dapat saling berinteraksi dengan android SDK

Kurang lebih seperti itu…

Mari kita budayakan membuat aplikasi bukan membeli…

doc : berbagai sumber
Advertisements

2 thoughts on “Android Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s