Mengenang Masa Lalu lg,

Harta yang paling berharga, adalah keluarga

Istana yang paling indah, adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna, adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah.. keluarga..

Barisan kata-kata diatas adalah sepenggal lirik lagu dari sebuah sinetron yang (mungkin) sangat kita rindu kehadiriannya, Keluarga Cemara. Sinetron yang dibuat tahun 1995 ini mengangkat sisi kehidupan yang paling dekat dengan kita dengan alur yang sederhana tapi bermakna.

Tak dipungkiri bahwa setiap sinetron pasti memiliki dramatisasi alur cerita. Begitu pula sinetron Keluarga Cemara ini. Dalam cerita itu dikisahkan sebuah keluarga yang awalnya berkecukupan, karena suatu hal membuatnya jatuh miskin. Harus tinggal di pedesaan yang jauh dari jalan raya. Namun berkat olahan cerita sutradara Aswendo Atmowilopo, sinetron ini memiliki nilai edukasi tanpa dramatisasi yang hiperbolis. Penonton dibuat hanyut terharu dan terpana dengan natural tanpa paksaan konstruksi.

Diceritakan Si Abah (Adi Kurdi) harus menghidupi keluarganya sebagai tukang becak. Si Emak (Novia Kolopaking) si pembuat opak yang nantinya akan dijajakan oleh ketiga anaknya Euis (Cahya H.D.) yang duduk di bangku SMU, Ara yang duduk dibangku SMP dan adiknya (maaf lupa namanya) yang masih mengenyam pendidikan SD. Pemilihan tokoh-tokoh dan suasana pedesaan yang cocok membuat sinetron ini terkesan lebih ”hidup”.

Dalam sinetron ini diajarkan kepada pemirsanya betapa besarnya nilai sebuah keluarga. Kebahagian suatu keluarga bukanlah diperlihatkan dari kemegahan banyaknya harta, tapi bagaimana suatu keluarga dapat bersatu dan kompak dalam menjalani kehidupan dalam keluarga mereka. Meskipun si Bapak hanyalah seorang penarik becak, namun sang Ibu tidak meminta hal-hal yang macam-macam dan sang Ibu sangat pengertian dengan keadaan si Bapak dan si Bapak juga mengerti dengan sang Ibu sehingga tetap bekerja keras untuk dapat memberi kejutan-kejutan kepada sang ibu sehingga selalu muncul kemesraan dan suasana dalam diri mereka berdua. Sehingga mereka hidup sangat bahagia meskipun dalam keadaan yang pas-pasan.

Ini jauh berbeda dengan masyarakat saat ini yang suami istri bertengkar karena merasa tidak adanya saling pengertian diantara mereka. Padahal saat akad nikah dulu telah berjanji menerima pasangannya apa adanya dan akan saling memperbaiki kekurangan masing-masing. Namun kemana ikrar itu? Perceraian mudah sekali terjadi dan seakan-akan itu hal yang lumrah. Konflik sedikit mintai cerai. Tentu hal ini disulut oleh acara-acara gossip selebritis yang menyajikan gaya hidup para selebritis dan berita mereka yang mayoritas adalah berita perceraian dan rumah tangga yang hancur lebur. Dan inilah yang menjadi tontonan masyarakat.

Di tengah bombardir sinetron yang mengangkat hubungan keluarga sebagai objek, kehadiran dramatisasi natural sebuah keluarga tampaknya kini telah hilang. Kalaupun ada sinetron yang menawarkan dramatasisasi keluarga, namun kalau saya menilai terlalu hiperbola dan malah membuat malas untuk menonton. Apalagi ditambah acara-acara reality show yang juga menyorot hubungan keluarga yang justru kurang dalam hal edukasi kekeluargaan.

Kehadiran senetron seperti Keluarga Cemara itulah yang dibutuhkan keluarga Indonesia saat ini. Kesederhanaan dan kesahajaan natural yang dihadirkan, bukan konstruksi realitas semu.

Juga merindukan sound track menggugah semangat;
Selamat pagi emak
Selamat pagi abah
Mentari hari ini berseri indah..

Dan satu lagi yang menjadi nilai utama dalam sinetron Keluarga Cemara ini adalah hubungan kakak beradik yang membimbing, mengayomi dan sayang menyayangi dan hormat menghormati. Kakak beradik yang kompak dan bekerjasama dalam membantu kedua orang tuanya dan meraih prestasi. Sungguh saat ini menjadi kejadian langka dimasyarakat kita. Yang ada adalah pertengkaran antara kakak beradik dan saling berebutan harta warisan orang tua mereka. sekali lagi ini pun sangat banyak dicontohkan oleh tayangan-tayangan saat ini.

Apakah keadaan masyarakat seperti saat ini yang kita dambakan?
Dimana kekerasan, penindasan, hasut, kedengkian dan penipuan serta kebohongan menjadi budaya. Atau kehidupan seperti Keluarga Cemara yang penuh pengertian dan kasih sayang?

Advertisements

2 thoughts on “Mengenang Masa Lalu lg,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s